Fish

Sabtu, 16 Juli 2011

KERAJAAN ACEH

Aceh semula menjadi daerah taklukan Kerajaan Pedir. Namun, dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) dan makin surutnya pengaruh Kerajaan Samudera Pasai, maka para pedagang di Selat Malaka beralih ke Pelabuhan Aceh (Olele). Aceh segera berkembang dengan cepat dan akhirnya melepaskan diri dari kekuasaan Pedir.


Kerajaan Aceh berkembang sebagai Kerajaan Islam dan mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Perkembangan pesat yang dicapai oleh Kerajaan Aceh tidak lepas dari letak kerajaannya yang strategis, yaitu di Pulau Sumatera bagian utara dan dekat jalur pelayaran perdagangan internasional pada masa itu. Ramainya aktivitas pelayaran perdagangan melalui bandar-bandar perdagangan Kerajaan Aceh, mempengaruhi perkembangan kehidupan dalam segala bidang seperti aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan.

Berdasarkan Bustanu’ssalatin (1637 M) karangan Nuruddin Ar Raniri yang berisi silsilah sultan-sultan Aceh, dan berdasarkan berita orang Eropa bahwa Kerajaan Aceh telah berhasil membebaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pedir.
Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Aceh adalah :

1. Sultan Ali Mughayat Syah
Seorang raja pertama Kerajaan Aceh yang memerintah pada tahun 1514-1528 M. dibawah kekuasaannya, Ia melakukan perluasan wilayah di beberapa daerah di Sumatera Utara, seperti daerah Daya dan Pasai bahkan melakukan serangan terhadap bangsa Portugis di Malaka dan menyerang Kerajaan Aru.

2. Sultan Salahuddin
Setelah Sultan Ali wafat, pemerintahan beralih kepada putera yang bergelar Sultan Salahuddin. Ia memerintah pada 1528-1537 M. Selama menduduki tahta, Ia ternyata tidak memperdulikan pemerintahan kerajaannya. Akhirnya keadaan mulai goyah dan terjadi kemerosotan yang tajam. Oleh karena itu, tahta diberikan kepada saudaranya yang bernama Alauddin Riayat Syah al-Kahar

3. Alauddin Riayat Syah al-Kahar
Ia memerintah pada 1537-1568 M. setelah menduduki tahta, Ia melaksanakan berbagai bentuk perubahan dan perbaikan dalam segala bentuk pemerintahan Kerajaan Aceh. Ia melakukan perluasan wilayah kekuasaannya seperti melakukan serangan terhadap kerajaan Malaka (tetapi gagal). Daerah Kerajaan Aru berhasil diduduki. Setelah Ia mengalami masa suram. Pemberontakan dan perebutan kekuasaan sering terjadi.

4. Sultan Islandar Muda
Ia memerintah Aceh dari tahun 1607-1636. Di Bawah pemerintahannya kerajaan Aceh mengalami masa kejayaan dan tumbuh menjadi kerajaan besar. Bahkan menjadi Bandar transito yang dapat menghubungkan dengan pedagang islam di dunia Barat.
Untuk mencapai kebesaran kerajaan Aceh Sultan Iskandar Muda menyerang Portugis dan Kerajaan Johor di Semenanjung Malaya .Tujuannya untuk menguasai perdagangan di jalur Malaka dan menguasai daerah penghasil lada. Di samping itu, kerajaan Aceh melakukan pendudukan terhadap Aru,Pahang,Kedah,Perlak,dan Indragiri, sehingga memiliki kekuasaan yang sangat luas. Pada masa kejayaannya terdapat dua orang ahli tasawuf yang terkenal, yaitu : Syech Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani dan Syech Ibrahim as Syamsyi.

5. Sultan Iskandar Thani
Sultan Iskandar Thani merupakan menantu Sultan Iskandar Muda yang memerintah pada 1636-1641 Masehi. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tahni muncul seorang ulama besar bernama Nuruddin Ar-Raniri . Ia menulis buku sejarah aceh berjudul “Bustanus’salatin”

Dalam kejayaannya Kerajaan Aceh berkembang pesat karena daerahnya yang subur menghasilkan lada. Kekuasaan Aceh atas daerah-daerah pantai timur dan barat Sumatera menambah jumlah ekspor ladanya . Penguasaan Aceh atas beberapa daerah di Semenanjung Malaka menyebabkan bertambahnya badan ekspor penting timah dan lada.Sementara itu Aceh berkuasa atas Selat Malaka yang merupakan jalan dagang internasional sehingga banyak bangsa asing yang berdagang dengan Aceh. Barang-barang yang diekspor Aceh seperti : beras,lada,timah(dari Perlak dan Pahang),emas,perak(dari Minangkabau),rempah-rempah dari Maluku. Kapal-kapal Aceh juga aktif dalam perdagangan dan pelayaran sampai Laut Merah.

Meningkatnya kemakmurn telah menyebutkan berkembangnya sistem feodalisme dan ajaran agama islam di Aceh. Kaum bangsawan yang memegang kekuasan dalam pemerintahan sipil disebut golongan Teuku, sedangkan kaum ulama yang memegang peranan penting dalam agama disebut golongan Teungku. Sayang kedua golongan masyarakat itu sering terjadi persaingan yang kemudian melemahkan Aceh. Sejak berkuasanya Kerajaan Perlak (abad ke 12-13 M) telah terjadi permusuhan antara aliran Syiah dengan Sunnah Waljama’ah. Tetapi pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda Syiah memperoleh perlindungan dan berkembang sampai di daerah – daerah kekuasaan Aceh. Aliran ini diajarkan oleh Hamzah Fansuri yang diteruskan oleh muridnya bernama Syamsuddin Afaid. Sesudah Iskandar Muda wafat aliran Sunnah Waljama’ah mengembangkan agama Islam beraliran Sunnah Waljama’ah, ia juga menuliskan buku sejarah Aceh yang berjudul Bustanussalatin (taman segala raja) yang menguraikan tentang adapt istiadat suku Aceh dan ajaran agama Islam. Hasil kesusastraan itu tidak ditulis dalam bahasa Aceh, tetapi dalam bahasa Melayu.

Kejayaan yang dialami oleh Kerajaan Aceh tersebut tidak banyak diketahui dalam bidang kebudayaan. Walaupun ada perkembangan dalam kebudayaan, tetapi tidak sepesat perkembangan dalam aktivitas perekonomian. Peninggalan kebudayaan yang terlihat nyata seperti bangunan Masjid Baiturahman yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

1. Setelah Iskandar Muda wafat tahun 1636, terjadi tidak ada raja – raja besar yang mampu mengendalikan daerah Aceh. Di bawah Sultan Iskandar Thani (1637-1641), sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda kemunduran itu mulai terasa dan terlebih lagi setelah meninggalnya Sultan Iskandar Thani.
2. Timbulnya pertikaian yang terus menerus di Aceh antara golongan Teuku (bangsawan) dengan golongan Teungku (ulama) yang menyebabkan melemahnya Kerajaan Aceh. Antara golongan ulama sendiri pertikaian terjadi karena perbedaan aliran dalam agama (aliran Syiah dan Sunnah Waljama’ah).
3. Daerah – daerah kekuasaannya banyak yang melepaskan diri seperti Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau, dan Siak. Negara – negara itu menjadikan daerahnya sebagai negara merdeka kembali, kadang – kadang dibantu oleh bangsa asing yang menginginkan keuntungan perdagangan yang lebih besar.
4. Kekalahan Aceh melawan Portugis di Malaka dalam perang tahun 1629 membawa korban jiwa dan harta benda serta kapal – kapal yang cukup besar.

Kerajaan Aceh yang berkuasa selama ±4 abad, akhirnya runtuh karena dikuasai oleh Belanda pada awal abad ke 20.
Ppt klik di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar